Skip to main content

About the Writer Seruni Bodjawati - Indonesian Contemporary Artist, Woman Artist, Art Writer


Seruni Bodjawati is a prominent Indonesian woman artist and contemporary painter, born in Yogyakarta on September 1, 1991. Widely recognized as one of the most influential female artists in Indonesia, she graduated cum laude in Fine Art from the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta (ISI Yogyakarta). A prodigious talent, she began painting at just 10 months old and quickly rose to national and international acclaim.

Her achievements include the Honorary Award from the Director General of Higher Education, Ministry of Education and Culture Indonesia (2012), Best High-Achieving Student at ISI Yogyakarta, multiple Best Painting awards, and Top 12 Best Artwork at the Bazaar Art Award by Harper’s Bazaar Indonesia. She has received numerous prestigious recognitions such as La Femme Awards from Lions Club International as an Inspirational Woman and honors as a leading figure in Indonesian art and culture.

Her works have been exhibited in more than 75 exhibitions across renowned galleries and museums worldwide, including in the Netherlands, France, Spain, Italy, the United States, Germany, the United Kingdom, South Korea, and Indonesia. Her paintings are held in private collections by prominent collectors, art patrons, and public figures across the globe, further solidifying her position as a leading Indonesian contemporary artist. As a key figure in modern Indonesian art, her work represents fine art excellence, visual culture, and the global rise of women artists from Southeast Asia.

Seruni was elected as one of Indonesian Young Heroes by Aplaus The Lifestyle Indonesia for her achievements in international art scenes. In 2012 she was awarded as Indonesia's Most Inspiring Woman in Art and Culture by Kartini Magazine and Indonesian First Lady, Ani Susilo Bambang Yudhoyono in Kartini Awards 2012, the other nominees for the award were Agnes Monica (singer, actress), Atilah Soeryadjaya (Director and screenwriter of Sendratari Matah Ati), Kamila Andini (Director and screenwriter, the winner of Piala Citra 2011), Encim Masnah (87-year-old maestro gambang kromong classic), Astaliah (119-year-old maestro of South Kalimantan Barikin mask dance), Roesina (Dayak Deyah dancer from South Kalimantan).

Seruni has held eight solo exhibitions and dozens of group exhibitions both inside and outside the nation as in Indonesia (Galeri Nasional Indonesia, Edwin's Gallery, The Ritz Carlton Jakarta, Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, etc) Japan (Kyoto), America (New York), Australia (Melbourne), Philippine (Manila), Romania (Bucharest), France (Aix-Marseille, Boulogne & Paris), India (Hyderabad), England (London), Germany (VK Lauterbach), New Zealand (Christchurch), Singapore, Hungary (Budapest & Eger) and Spain (City of Cuenca). Besides painting, she is also writing essays, curating local exhibitions in Yogyakarta, and producing art films.


Seruni Bodjawati is not only a prominent Indonesian woman artist and contemporary painter, but also a prolific art writer whose work has been published in mass media since her early childhood. She began writing during elementary school and has continuously contributed short stories, poetry, and Indonesian art essays to various national and international publications. Her writings explore Indonesian contemporary art, fine art theory, visual culture, philosophy, and creative expression, strengthening her reputation as both an influential artist and art intellectual in Indonesia.

As an established Indonesian art writer, her essays and literary works play a significant role in shaping contemporary art discourse, art criticism, and cultural narratives in Southeast Asia. In addition to her artistic and literary career, she is actively involved in social organizations, cultural communities, and non-governmental organizations (NGOs), contributing to art education, cultural preservation, and community empowerment programs.

In recognition of her dedication to art and culture, she was officially appointed and awarded as a Museum Ambassador by the Governor of the Special Region of Yogyakarta in 2015, highlighting her influence in promoting museums, Indonesian heritage, and art appreciation to a wider audience. Through her multidimensional career as a contemporary artist, writer, and cultural advocate, she continues to expand the global presence of Indonesian fine art, women artists, and creative industries.



Popular posts from this blog

BIAS MISTERI KOLEKSI LUKISAN DR. YAP

          Sejarah panjang pra kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari kehadiran sosok filantropis Yogyakarta bernama Dr. Yap Hong Tjoen. Dokter yang lahir pada tanggal 30 Maret 1885 ini tidak hanya sekadar berjasa di bidang medis, namun juga di bidang pendidikan, sosial, dan budaya.             Sebagai ophthalmologist (spesialis penyakit mata) yang berkontribusi besar bagi bangsa, kisah hidup Dr. Yap Hong Tjoen tentu penuh lika-liku perjuangan. Kepandaian istimewanya diperoleh melalui proses pendidikan panjang, mulai dari sekolah Tionghoa lalu ke ELS dan HBS Semarang. Di zaman penjajahan Belanda yang keras, belum banyak pelajar Indonesia dapat memperoleh pendidikan tinggi di Belanda. Dr. Yap Hong Tjoen adalah generasi pertama pelajar Tionghoa yang berhasil menembus Universitas Leiden dan kemudian diikuti 15 pelajar Tionghoa lain yang juga mempelajari bidang medis. Dr. Yap ...

Media Massa dan Kritik Seni Rupa

Esai Seruni Bodjawati di Koran Jawa Pos Media massa seperti koran dan majalah telah memberikan ruang luas untuk peliputan berbagai peristiwa seni rupa di Indonesia. Hal ini membuat perkembangan seni rupa kita melesat sangat pesat dalam satu dasawarsa terakhir. Indonesia menjadi salah satu pusat seni rupa Asia berdampingan dengan Cina, India dan Vietnam. Diakui atau tidak, ibu kota seni rupa Indonesia adalah Yogyakarta. Di kota berhati nyaman ini ribuan perupa lahir dan bersaing keras untuk eksis. Daya kreativitas menggelegak. Inovasi dan terobosan baru dalam penciptaan dan publikasi karya berjalan jauh lebih intens dan memukau. Apa pun bentuknya, setiap tulisan di media massa pastilah memberi rangsangan ke semua pihak untuk lebih memerhatikan seni rupa. Para seniman lebih tergugah, galeri dan pedagang tambah nafsu, kolektor dan konsumen mimpinya lebih indah, dan masyarakat luas lebih ingin memahami seluk beluknya. Namun jarang ada pihak yang mengerti secara bijak mengenai karak...

MEMANDANG SENI RUPA TIONGHOA

Esai Seni Rupa Seruni Bodjawati di Majalah MataJendela, Taman Budaya Yogyakarta Sahabat keluarga saya seorang konglomerat Surabaya, Tedjo Prasetyo, suatu saat di Tembok Besar Cina berkata kepada ayah saya sembari memandang cakrawala. Ucapnya getir, “Bangsa Cina adalah bangsa besar. Menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Dimanapun mereka berada, mereka bangga menjadi orang Cina. Kecuali di Indonesia, kebanyakan orang Cina marah, tersinggung atau tak suka kalau dibilang Cina. Mereka lebih suka disebut Tionghoa. Sesungguhnya sebutan Tionghoa itu hanya ada di Indonesia saja.” Kalau ditinjau dari segi kesejarahan, hal di atas tak lepas dari situasi sosial-politik yang mengepung mereka sejak zaman kolonial Belanda hingga zaman reformasi ini. Sebagai perantau yang lalu berturun temurun di tanah perantauan mereka perlu menerapkan berbagai pola adaptasi untuk meminimalisir konflik. Dasar peradabannya yang luwes menjadi andalan untuk eksis. Dijalankanlah prinsip: Di mana bumi dipijak ...