BIAS MISTERI KOLEKSI LUKISAN DR. YAP

The real meaning of enlightenment is to gaze with undimmed eyes on all darkness. 
- Nikos Kazantzakis

Museum RS Mata Dr. Yap, Jalan Cik Di Tiro No.5, Gondokusuman, Daerah Istimewa Yogyakarta
            Sejarah panjang pra kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari kehadiran sosok filantropis Yogyakarta bernama Dr. Yap Hong Tjoen. Dokter yang lahir pada tanggal 30 Maret 1885 ini tidak hanya sekadar berjasa di bidang medis, namun juga di bidang pendidikan, sosial, dan budaya.
            Sebagai ophthalmologist (spesialis penyakit mata) yang berkontribusi besar bagi bangsa, kisah hidup Dr. Yap Hong Tjoen tentu penuh lika-liku perjuangan. Kepandaian istimewanya diperoleh melalui proses pendidikan panjang, mulai dari sekolah Tionghoa lalu ke ELS dan HBS Semarang. Di zaman penjajahan Belanda yang keras, belum banyak pelajar Indonesia dapat memperoleh pendidikan tinggi di Belanda. Dr. Yap Hong Tjoen adalah generasi pertama pelajar Tionghoa yang berhasil menembus Universitas Leiden dan kemudian diikuti 15 pelajar Tionghoa lain yang juga mempelajari bidang medis. Dr. Yap Hong Tjoen dan rekan-rekan studinya kemudian mendirikan CHH (Chung Hwa Hui), asosiasi pelajar Tionghoa di Belanda yang banyak berjasa dalam pendanaan pendidikan keturunan Tionghoa di Hindia Belanda.
            Pergaulan luas Dr. Yap Hong Tjoen membuatnya bersahabat erat dengan Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) dan  JA Jonkman. Mereka kemudian menjadi dewan redaksi Hindia Poetra di IVS (Indonesisch Verbond van Studeerenden) atau PPI (Perserikatan Pelajar Indonesia) tahun 1917. Puncak keberhasilan pendidikan Dr. Yap Hong Tjoen adalah saat diperolehnya gelar dokter ilmu penyakit mata pada tanggal 24 Januari 1919 melalui disertasi tentang penyakit glukoma. Tak lama kemudian, Dr. Yap Hong Tjoen kembali ke tanah air untuk membangun klinik di Bandung dan kembali ke Yogyakarta untuk mendirikan sebuah klinik mata Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders. Setelah memasuki zaman pendudukan Jepang, nama tersebut diganti menjadi Rumah Sakit Mata Dr. Yap.
            Jiwa humanis yang tinggi dari Dr. Yap Hong Tjoen membuat pelayanannya kepada para pasien menjadi adil, karena tidak membeda-bedakan kaum miskin ataupun kaya. Dengan peralatan medis yang canggih pada zamannya, Rumah Sakit Mata Dr Yap ramai dikunjungi para tuna netra hingga dirintislah Balai Mardi Wuto untuk memberdayakan mereka dengan berbagai keterampilan. Pada tahun 1949, Dr. Yap Hong Tjoen pergi ke Belanda dan wafat di Den Haag pada tanggal 28 November 1952. Semenjak meninggalkan tanah air dia menyerahkan pengelolaan rumah sakit kepada putranya, Dr. Yap Kie Tiong.
Koleksi beberapa alat Ophthalmology di Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap
Dr. Yap Kie Tiong mengelola rumah sakit dengan disiplin dan dedikasi tinggi. Dia berhasil menambah jumlah tenaga kerja rumah sakit dengan pesat dan menurunkan prosentase penyakit mata seperti trachoma, katarak, glukoma dan xenoftalmia. Tragisnya, Dr. Yap Kie Tiong meninggal bunuh diri di kantor Rumah Sakit Mata Dr. Yap pada tanggal 9 Januari 1969. Peristiwa pedih dalam generasi Yap tersebut konon dilatarbelakangi oleh masalah keluarga yang cukup berat. Dr. Yap Kie Tiong kemudian dimakamkan di Melisi Bantul dan pengelolaan rumah sakit serta museum diserahkan kepada Yayasan Dr. Yap Prawirohusodo.
Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 1997. Museum yang jarang diketahui publik ini menempati tanah seluas 246 meter persegi di dalam area rumah sakit. Di museum ini tersimpan rapi koleksi barang-barang peninggalan Dr. Yap Hong Tjoen dan Dr. Yap Kie Tiong. Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap memiliki empat ruangan yaitu Ruang Perpustakaan (berisi buku-buku Bahasa, Sastra, Seni, Sejarah, Ophthalmology dan lain-lain sebanyak 934 judul, 939 eksemplar), Ruang Tidur (berisi barang-barang antik dan foto-foto keluarga), Ruang Alat-alat Makan, dan Ruang Alat-alat Kedokteran Ophthalmology.
Beragamnya koleksi dalam Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap menunjukkan intelektualitas dan selera tinggi Dr. Yap Hong Tjoen dan Dr. Yap Kie Tiong. Selain ratusan buku bertopik medis, sejarah, budaya hingga filsafat, terdapat pula beberapa karya seni di bidang seni lukis (lukisan cat minyak dan drawing), patung (beberapa dengan medium kayu), hingga kriya keramik (terutama tea set porselen). Pada masa pra kemerdekaan, apresiasi masyarakat terhadap seni rupa tentu belum semarak sekarang dengan adanya berbagai keterbatasan ruang apresiasi dan modal. Tak pelak, kehidupan para seniman pun masih terbilang sangat susah dengan sedikitnya jumlah apresiator dan patron seni.
Adanya karya-karya seni rupa di Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap dapat menjadi penanda bahwa Dr. Yap Hong Tjoen merupakan salah satu pelopor kolektor seni berdarah Tionghoa yang kemudian memunculkan generasi-generasi baru dalam kiprahnya di pasar seni rupa Indonesia. Pengamat seni rupa Agus Dermawan T. pernah menulis bahwa 90% pemain dalam pasar seni rupa Indonesia adalah orang Tionghoa. Mereka dapat berupa kolektor dan kolekdol, art dealer dan pemilik galeri. Kini para pemain dalam pasar seni rupa Indonesia yang berdarah Tionghoa dapat dideret seperti Ir. Ciputra, Dr. Oei Hong Djien, Ir. Deddy Kusuma, Budi Tek, Budhi Setya Dharma, Siswanto HS, Soenarjo Sampoerna, Dr. Melani W. Setiawan, Hendra Hadiprana (Galeri Hadiprana), Edwin Rahardjo (Edwin’s Gallery), Andi Yustana (Andi’s Gallery), Deddy Irianto (Langgeng Galeri) dan masih sangat banyak.
Di Ruang Tidur yang menjadi salah satu bagian ruangan Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap, terdapat lukisan dua maestro seni rupa Indonesia yaitu Henk Ngantung dan S. Sudjojono. Meskipun lukisan-lukisan tersebut mempunyai nilai intrinsik yang sangat tinggi, hingga saat ini sejarah kedua lukisan tersebut masih sangat bias. Pihak pengurus dan edukator museum sama sekali tidak mempunyai catatan mengenai asal muasal lukisan secara terperinci. Belum ada peliputan media atau riset ilmiah mengenai koleksi benda-benda seni milik Dr. Yap Hong Tjoen. Tidak jelas apakah karya dua maestro tersebut merupakan hibah, pesanan, atau dibeli langsung oleh Dr. Yap Hong Tjoen dari Henk Ngantung maupun S. Sudjojono.
Lukisan potret diri Dr. Yap Hong Tjoen karya Henk Ngantung tahun 1948
Lukisan Henk Ngantung yang menjadi bagian dari koleksi Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap menggambarkan potret diri Dr. Yap Hong Tjoen dalam posisi duduk. Lukisan bermedia cat minyak di atas kanvas tersebut dibuat dengan sapuan kuas yang ekspresif dan warna-warna yang matang. Berdasarkan tanda tangan di kanvas, karya berukuran 78 x 58 cm (ukuran tanpa pigura) tersebut diselesaikan pada tanggal 30 Mei 1948. Mengingat Henk Ngantung pernah menjadi pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok tahun 1955-1958, tentu ada hubungan kekerabatan antara dia dan Dr. Yap Hong Tjoen hingga tercipta lukisan potret diri tersebut.
Lukisan langka S. Sudjojono di Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap yang dibuat tahun 1955
Sedangkan lukisan karya S. Sudjojono di museum ini mempunyai tampilan visual yang sangat menarik. Sebagai penganut aliran realisme sosial, dalam karya yang judulnya tidak diketahui ini S. Sudjojono memainkan unsur-unsur surealisme yang jarang nampak pada karya-karyanya. Digambarkan sebuah mata raksasa melayang di tengah-tengah suasana sendu figur-figur rakyat jelata di padang tandus. Terdapat dua figur sentral dalam lukisan ini berupa seorang laki-laki yang sedang berjongkok dan seorang perempuan berkebaya merah, identitasnya tidak diketahui. Lukisan yang bermedia cat minyak di atas kanvas ini berukuran 67 x 52 cm (ukuran tanpa pigura) dan dibuat tahun 1955.
Drawing potret diri keluarga Dr. Yap di Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap
Selain karya dua maestro tersebut, terdapat karya drawing yang menggambarkan potret diri anggota keluarga Dr. Yap Hong Tjoen dan Dr. Yap Kie Tiong. Berdasarkan tanda tangan yang tertera, karya-karya tersebut dibuat oleh pelukis potret bernama Wahyu di Yogyakarta pada tahun 1998. Selain potret diri Dr. Yap Hong Tjoen dan Dr. Yap Kie Tiong, ada pula potret diri istri pertama Dr. Yap Hong Tjoen, Tan Souw Lee, beserta istri kedua dan tiga anaknya yang lain. Ada pula potret diri Oei Hong Nio, istri Dr. Yap Kie Tiong.
Cukup disayangkan, pihak Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap kurang mengerti cara pemeliharaan lukisan agar tidak rusak. Di ruang yang sirkulasi udaranya kurang baik seperti di museum ini, lukisan-lukisan tua akan sangat rawan mengalami kerusakan. Apabila lukisan-lukisan tersebut rusak, tentu kerugiannya tidak akan sedikit. Secara nominal, karya-karya para maestro seni rupa sudah pasti harganya tidak murah. Bahkan beberapa tahun lalu, lukisan S. Sudjojono berjudul Pasukan Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro mencapai Rp 85,7 miliar dalam balai lelang Sotheby's di Hong Kong. Lebih penting lagi, nilai-nilai intangible dalam koleksi-koleksi seni di Museum Rumah Sakit Mata Dr. Yap tentu memiliki harga yang tidak terukur bagi sejarah dan peradaban. Museum ibaratkan portal masa lalu dan masa kini, semoga kepedulian preservasi, konservasi, dan restorasinya semakin meningkat sehingga transfer ilmu antargenerasi terus berkelanjutan.
- Seruni Bodjawati
Seniman & Duta Museum Daerah Istimewa Yogyakarta

Duta Museum DIY Meriahkan Karnaval Festival Museum 2015


            Barisan meriah karnaval yang diikuti puluhan museum menjadi pembuka pada Festival Museum 2015 yang diselenggarakan Badan Musyawarah Musea dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Arak-arakan bertema museum tersebut diselenggarakan pada tanggal 14 Oktober 2015 di sepanjang jalan Maliboro. Ratusan pengunjung lokal maupun mancanegara antusias menikmati aksi teatrikal karnaval yang disajikan sesuai ciri khas masing-masing museum.
            Karnaval ini diikuti dengan rangkaian acara pada Festival Museum 2015 dengan tema "Museum for Edutourism" yang diselenggarakan 15-19 Oktober di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Tema tersebut bertujuan untuk menjelaskan pada masyarakat bahwa peran museum tidak hanya sebagai objek wisata, namun juga sebagai tempat pendidikan. Acara-acara pada Festival Museum 2015 meliputi pameran museum, workshop, pentas tari, festival band, lomba melukis dan mewarnai, serta lomba stand up comedy.


Selain 33 museum di DIY ditambah dua museum dari Jakarta dan Kabupaten Majene, Duta Museum DIY 2015 juga turut berpartisipasi dalam karnaval. Belasan anggota Ikatan Duta Museum mengikuti karnaval ini dengan kompak dan antusias. Barisan karnaval Duta Museum DIY 2015 merepresentasikan tiga golongan museum yaitu museum pendidikan, museum perjuangan, dan museum seni budaya. Konsep karnaval ini mengacu kepada tema yang diusung International Council of Museum yaitu “Museums for a Sustainable Society” karena Duta Museum DIY diharapkan memiliki pemahaman yang global terhadap dinamika permuseuman agar fungsi museum terus berkelanjutan di masyarakat.
Pada barisan karnaval dengan tema museum perjuangan, Duta Museum DIY 2015 bekerja sama dengan komunitas Djogjakarta 1945. Komunitas ini memperhatikan peristiwa bersejarah dalam berdirinya Republik Indonesia di DIY, sehingga mereka dengan senang hati meminjamkan kostum era perjuangan saat karnaval berlangsung. Sedangkan pada barisan museum pendidikan dan museum seni budaya, setiap orang membawa papan tulisan yang berisi slogan untuk mengajak masyarakat mencintai museum. Sepanjang karnaval berlangsung, Duta Museum DIY 2015 terus aktif mengkampanyekan gerakan mengunjungi museum kepada para penonton.
Duta Museum DIY 2015 juga bekerja sama dengan mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia untuk menghias pick up yang mengiringi bagian belakang barisan karnaval. Pick up ini dihias dengan lukisan ekspresionisme potret diri para figur museum di DIY yaitu Affandi, Jenderal Soedirman, dan Ki Hadjar Dewantara. Pada acara pameran Festival Museum 2015, Duta Museum DIY berkolaborasi dengan para pembuat merchandise yang peduli dengan seni budaya Indonesia dan mengadakan “Instagram Photo Competition” untuk mempromosikan museum lebih luas. Dengan adanya kolaborasi multidisiplin, Duta Museum 2015 dapat menghasilkan ekspresi kreatif dan keterlibatan unik dari berbagai pihak untuk mengapresiasi museum di DIY.


Seruni Bodjawati - Juara Umum Duta Museum DIY 2015
Majalah Siswa Nusantara Tamansiswa

KEBEBASAN SPIRITUAL SENIMAN

                                    The highest and most beautiful things in life are not to be heard about, nor read about, nor seen but, if one will, are to be lived.
― Søren Kierkegaard

Dunia kebudayaan terhenyak saat Jean-Paul Sartre mempertanyakan apa yang bisa dilakukan kesenian bagi orang-orang kelaparan. Ya, apakah perut orang-orang lapar tiba-tiba bisa menjadi kenyang setelah dunia makin dipenuhi karya-karya seni berkelas masterpieces? Apakah nilai dan makna keindahan sebanding dengan seonggok nasi yang tercampak di atas tanah? Betapa sekalimat pertanyaan Jean-Paul Sartre yang bisa terus dikembangkan ke arah yang senada akan cukup membuat pusing untuk menjawabnya. Ujungnya, jika seni dituntut untuk maksud tertentu demi tergapainya tujuan praktis sudah pasti terjadi pendangkalan makna yang hebat. Seni yang demikian akan mendekati usaha untuk bunuh diri dengan mencekik batang lehernya sendiri.
Kesenian dapat memainkan peran efektif dalam kehidupan sosial meski bersikap nihilistis. Sama halnya dengan ilmu pengetahuan jika bekerja dengan terikat pada tujuan terbatas berarti mencipta kendala bagi dirinya sendiri untuk sampai pada berbagai penemuan penting yang baru. Penelitian ilmiah akan maksimal jika bekerja semata-mata demi kepentingannya sendiri. Suatu esensi kodrati yakni demi pemuasan keingintahuan intelektual tanpa dibebani motif dangkal mengejar target manfaat tertentu. Totalitas pencarian makna yang demikian itu justru hasilnya luar biasa alamiah yaitu memiliki terapan sosial yang bermanfaat sangat hebat.
Albert Einstein menemukan teori atom awalnya hanya demi pemuasan petualangan di medan ilmu pengetahuan. Baru kemudian dunia mendapatkan berkahnya. Demikian pula dengan usaha yang dilakukan oleh Thomas Alfa Edison, Marie Curie dan Antonie van Leeuwenhoek. Bahkan novelis Harriet Beecher Stowe melalui karyanya Uncle Tom’s Cabin tak pernah membayangkan karyanya akan mendorong perang besar Amerika yang berujung penghapusan perbudakan. Dia hanya menggelontorkan nafsu artistiknya untuk bercerita. Tak beda pula dengan yang dilakukan Charles Dickens, Victor Hugo, Leo Tolstoy.
Kreativitas itu hakekatnya bermakna menggali ilham dari lubuk kehidupan spiritual manusia. Seni menerapkan kualitas transendental, hasil ungkapan penghayatan nilai seniman setelah merenungkan suatu objek yang bersiat subjektif. Kejujuran dalam menemukan kebenaran universal membuat karyanya diterima secara objektif oleh khalayak awam. Daerah pencarian dan penemuan kreator merupakan daerah transenden. Yakni sesuatu yang di luar kenyataan material duniawi. Sebuah jangkauan luas yang tak terbatas bagi pengembaraan rohani manusia. Sebagai tangkapan kualitas transendental karya seni bersifat organis. Senantiasa tumbuh mewujudkan garis-garis tepinya yang lain dan berada sejalur dengan dunia kepercayaan, filsafat, rohani.
Para ahli politik praktis acapkali berpikir bahwa seorang seniman seharusnya dengan penuh kesadaran membaktikan kejeniusannya demi peningkatan kesejahteraan manusia. Hal itu tentu tidak salah sepanjang spontanitas lubuk hati terdalam tetap terjaga dan semangat daya cipta yang bebas menemukan langit luas. Karya besar sepanjang sejarah selalu lahir jika kreatornya saat berkarya bebas lepas secara spiritual. Badannya bisa saja terpenjara tapi imajinasi dan tenaga kreatifnya tak terbendung. Contoh terbaik diperlihatkan oleh Alexander Solzhenitsyn saat menulis novel Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich dan Gulag Archipelago. Atau Fyodor Dostoyevsky saat menulis Catatan dari Bawah Tanah dan Rumah Mati di Siberia dari penjara paling mengerikan di pembuangan Siberia. Demikian pun Pramoedya Ananta Toer saat melahirkan tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca di pengasingan Pulau Buru. Di penjara terkutuk itulah justru Pramoedya dapat menemukan kebebasan kreatif-spiritual tak terbatas dan berkualitas emas 24 karat. Tanpa dipenjarakan di situ mungkinkah tetralogi kebanggaan dunia sastra Indonesia itu bakal lahir dari tangan Pramoedya?
Manakala seniman berhasil dijinakkan oleh rezim penguasa represif pastilah terjadi pemerosotan habis-habisan mutu karya seni. Karyanya yang telah diarahkan untuk tujuan praktis penguasa justru akan gagal memberi pengaruh sosial yang memadai. Mencoba menekan habis seniman, memasung dan memaksa, malahan akan merugikan rezim itu sendiri. Bahkan hal itu akan lebih memperbesar pengaruh seniman itu sendiri, bukan menguranginya. Rezim komunis Rusia, China, Kamboja, dan Indonesia semasa Orde Baru telah membuktikan hal itu. Para seniman berkualitas emas semakin diinjak akan menjadi semakin besar dan sakti.


Sebaliknya kaum seniman yang takluk di bawah partai politik atau di kaki dewa bernama Uang bisa dipastikan kualitas karyanya dengan cepat akan turun derajat. Pablo Picasso pernah tertarik pada komunisme dan menyuarakan misi partai itu melalui periode pendek perjalanan kreatif karyanya, maka inilah periode kemuraman mutunya yang menyedihkan. Lukisan Berburu Celeng Djoko Pekik tetap dahsyat meski ditumpangi visi politik yang lugas sebab ekspresinya muncul dari lubuk hati terdalam yang tak terbelenggu kepentingan praktis. Tapi karya senada seperti Tanpa Bunga dan Telegram Duka dan seri berikutnya tampak kurang menggairahkan karena sangat sadar memanggul visi politik, popularitas dan godaan dari Dewa Duit.
Akhirnya, karya seni yang menyimpulkan tujuan sosial, politik, atau metafisik dengan mudah dapat terjebak untuk mengalahkan keseniannya sendiri. Fungsi seni yang terjitu adalah kemampuannya memberi keberanian pada masyarakat zaman ini dalam mengahadapi hidup dan permasalahannya. Dalam mencipta, para seniman mesti mencari martabat kehidupan dalam citra kemanusiaan yang tumbuh dalam ketulusan dan itikad baik. Ars longa vita brevis.

*Seruni Bodjawati, pelukis dan esais.

MENGENANG AJARAN S. SUDJOJONO: JIWA KETOK VERSUS UANG SEGUDANG



Eyang saya Danarto, yang oleh Emha Ainun Najib dijuluki Wong Agung dari Sragen, menyatakan berkesenian merupakan sebuah proses. Dalam penciptaan karya, penghayatan yang ikhlas saat bekerja menjadi tiang utama. Melukis itu harus semaunya sendiri tapi jangan semau-maunya. Sedangkan pakdhe saya Sardono W. Kusumo mencontohkan perlunya sebuah totalitas berkarya. Memfokuskan getaran sukma. Menjaga intensitas penghayatan diri meluncur tanpa terputus dalam tegangan psikologis tinggi.
Membuat karya seni itu bermain tapi tidak main-main. Berkarya adalah pertaruhan harga diri. Suatu upacara untuk menghormati diri sendiri. Sebuah persembahyangan bagi sang sukma sejati. Saat melukis sebaiknya tidak memikirkan hasil akhir. Sebab hasil akhir hanyalah akibat belaka. Yang terbagus, luruh total dalam gelombang proses kreatif.
Tahun ini merupakan peringatan 101 tahun kelahiran Bapak Seni Rupa Modern Indonesia, S. Sudjojono. Ajarannya didiskusikan di berbagai tempat. Pemikiran eyang Danarto dan pakdhe Sardono W. Kusumo sepadan dengan konsep jiwa ketok yang digagas S. Sudjojono. Lukisan yang baik pastilah menampilkan jiwa pelukisnya. Jiwa ketok tak bakal ada jika pelukisnya tidak total bekerja, konsentrasinya ambyar, imajinasinya patah dan daya hidupnya digoyang gempa. Apalagi kalau kejujurannya digadaikan, yang tampil hanyalah kehampaan jiwa. Mungkin canggih secara teknik, menohok mata dari segi visual, tapi tidak memuat drama yang menjadi sejarah hidup pelukisnya. Secara teknis paling mendasar, agar jiwa ketok terbabar, seorang pelukis mesti menjamin setiap jengkal gambar di kanvasnya merupakan sentuhan murni tangannya sendiri yang ajaib dan berbudi.
Pelukis tak cukup bermodal ahli menaklukkan garis dan warna, menjinakkan binatang jalang di hutan pikiran. Dia harus berekspresi. Mengeksplorasi emosi, debaran masa lalu dan detak jantung masa depannya. Mengolah keunikan karakter dan daya spiritualitas. Akhirnya, yang tampil di kanvas bukan saja apa yang diucapkan tapi juga apa yang dirahasiakan. Yakni rahasia hidup pelukisnya sendiri. Itulah kekayaan budi kesenimanan yang ajaib. Yang memberi napas kehidupan karya seni. Sebagaimana Frida Kahlo mendenguskan: lukisanku adalah diriku.   
Lukisan berjiwa ketok mengandung pengalaman hidup, empirik dan kontemplatif, sejarah panjang dan mimpi hampa serta nyanyi sunyi. Lahir dalam upaya pencarian diri tak berujung. Menempuh lembah teka-teki yang tak pernah puas oleh jawaban. Sembari menggotong mayat dari diri sendiri. Dalam upaya menemukan momentum pemahkotaan. Saat bekerja, pelukis menyelaraskan diri dengan irama semesta raya. Menikahkan intuisi dengan intelektualitas di balik cakrawala jiwa.
Maria Tjui menyatakan melukis itu sambung nyawa. Artinya nyawa pelukis lewat cat dituangkan ke kanvas. Catnya diberi nyawa, bukan cuma menempelkan cat ke kanvas. Sepemikiran, ibu saya Wara Anindyah melalui bukunya Melukis Mengolah Sukma menjelaskan hal sama. Katanya, saat melukis dia merasa bagaikan Tuhan yang meniupkan napas kehidupan pada figur-figur di dalam kanvasnya. Sementara Pablo Picasso meyakini lukisan itu seperti manusia. Bernapas, kelelahan dan menjadi tua renta, akhirnya kalah bertempur melawan waktu. Ya, kalau seseorang sudah memilih seni lukis sebagai sebuah jalan hidup, bukan cuma jalan menuju kemakmuran, pastilah mengerti cara apa yang harus ditempuh agar mahkota jiwa ketok tergapai. Hadiah terindah bagi seniman adalah kebahagiaan yang dialaminya saat sedang berkarya.


Kala memimpin Persagi, S. Sudjojono mengingatkan bahayanya godaan uang bagi pelukis. Sebab kekuasaan uang itu memabukkan. Bisa melumpuhkan semangat kesenimanan. Uang segudang tak lagi dikuasai tapi malahan menguasai. Pikiran cuma mengarah pada uang. Bukan mengarah pada peningkatan kualitas semaksimal mungkin. Terkecuali bagi orang-orang tertentu yang iman kesenimanannya kuat. Makin banyak uang makin hebat karyanya. Namun sejarah membuktikan lebih banyak pelukis mati muda gara-gara mendadak kaya. Pensiun justru setelah hidupnya terjamin. Meluncurkan karya dengan mengkhianati kejujuran hati nurani. Tak peduli pada jiwa ketok. Bahkan dengan elegan ditendangnya keanggunan wajah Sang Jiwa Ketok yang celaka. Sebaliknya, dibuktikan oleh sejarah, karya-karya masterpieces biasanya lahir di saat-saat pahit, derita mengelucak, dan kemiskinan mendera. Lihat saja karya Vincent van Gogh, Rembrandt van Rijn, Frida Kahlo, Hendra Gunawan, S. Sudjojono. Penderitaan adalah kekuatan yang merupakan sumber tenaga kreativitas terbaik. Inilah yang membuat S. Sudjojono berkata, “Kalau takut miskin dan terkena TBC jangan jadi pelukis!”
Lantas apakah pelukis itu sebaiknya tidak usah kaya? Ah, itu kuno. Menjadi kaya raya itu baik, hebat dan indah pasti. Itu rahmat, perlu disyukuri. Asal setelah kaya harta jangan miskin jiwa, miskin kreativitas dan sportivitas. Kekayaan bisa memakmurkan. Tapi kemakmuran tidak menjamin adanya kesejahteraan. Memang, pelukis itu juga manusia. Perlu uang untuk biaya hidup. Perlu hidup enak juga. Namun sebagai makhluk berbudaya, rejeki berlebih semestinya dikembalikan kepada alam dan kebudayaan.
Pelukis perlu malu kalau tak bisa membuat karya bagus. Mengejar mutu itu kewajiban. Di tahun 1940-an pun, S. Sudjojono telah menggedor-gedor jantung kreativitas para murid dan sahabatnya. Katanya, pelukis sejati tak ada alasan untuk tidak melukis. Kalau tak punya kanvas dan cat melukislah dengan kertas bekas dan pensil. Kalau tak ada kertas dan pensil melukislah dengan arang di lantai atau tembok. Kalau tak ketemu arang dan lantai atau tembok, melukislah dengan jari di atas tanah. Dan kalau tak dapat tanah? Melukislah di langit dengan matamu!
Musashi memilih jalan pedang maka yang senantiasa digelisahkannya adalah pertarungan. Orang yang memilih jalan kanvas juga selalu menggelisahkan bagaimana menaruh harga diri dan kehormatannya di atas kanvas. Perlu direnungkan juga kalimat mutiara Lao Tse, “Manusia unggul mengerti apa yang benar. Manusia rendah tahu apa yang laku dijual.” Karena itu, jangan biarkan lukisan kagum kepada uang. Tapi biarlah uang mengagumi lukisan. 

Yogyakarta, 2014
Seruni Bodjawati, pelukis dan esais

MEMANDANG SENI RUPA TIONGHOA

Esai Seni Rupa Seruni Bodjawati di Majalah MataJendela, Taman Budaya Yogyakarta
Sahabat keluarga saya seorang konglomerat Surabaya, Tedjo Prasetyo, suatu saat di Tembok Besar Cina berkata kepada ayah saya sembari memandang cakrawala. Ucapnya getir, “Bangsa Cina adalah bangsa besar. Menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Dimanapun mereka berada, mereka bangga menjadi orang Cina. Kecuali di Indonesia, kebanyakan orang Cina marah, tersinggung atau tak suka kalau dibilang Cina. Mereka lebih suka disebut Tionghoa. Sesungguhnya sebutan Tionghoa itu hanya ada di Indonesia saja.”
Kalau ditinjau dari segi kesejarahan, hal di atas tak lepas dari situasi sosial-politik yang mengepung mereka sejak zaman kolonial Belanda hingga zaman reformasi ini. Sebagai perantau yang lalu berturun temurun di tanah perantauan mereka perlu menerapkan berbagai pola adaptasi untuk meminimalisir konflik. Dasar peradabannya yang luwes menjadi andalan untuk eksis. Dijalankanlah prinsip: Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
Di mana pun mereka tinggal, peran serta mengembangkan dan memajukan lingkungan selalu dilakukan. Baik di bidang seni budaya, keagamaan dan peri kehidupan sosial lainnya. Tentu tanpa meninggalkan karakter yang sudah berurat-berakar yang dibawa dari tanah leluhur yakni berkaitan dengan pengutamaan kekerabatan dan ingatan pekat terhadap tanah leluhur. Kedua hal itulah yang memersatukan mereka sebagai ras kuning. Di belahan dunia mana pun mereka berada meski satu sama lain dipisahkan oleh jarak yang tak terkira jauhnya. Ajaran tiga guru bangsa yaitu Lao Tse, Kong Hu Cu dan Mencius yang dipraktekkan langsung secara disiplin selama ribuan tahun tanpa terputus membuat kemungkinan seperti itu terjadi.
Tak aneh jika ahli sejarah kebudayaan Tiongkok, Elizabeth Seeger, sampai menyatakan bahwa di mana pun orang-orang Cina berada mereka tetap Cina. Dan pakar bangsa-bangsa, L. Stodard, di tahun 1920-an sudah meramalkan bahwa banjir Sungai Kuning akan menggenangi seluruh penjuru dunia. Memang, mereka secara naluriah atau bahkan secara sistematis didorong oleh penguasa negerinya dari zaman ke zaman untuk menyebar ke berbagai penjuru dunia. Daya tahan kemanusiaannya yang kuat, di mana seekor beruang kutub pun tak mampu bertahan hidup tapi orang Cina mampu hidup hanya dengan semangkuk bubur, membuat mereka selalu unggul dibanding masyarakat setempat. Sebagai perantauan mereka hidup dengan berdagang dan berwirausaha, serta membangun kerajaan-kerajaan ekonomi melalui aktivitas bisnis dengan jurus Sun Tzu. Kecerdasannya bisa dilihat dari penerapan falsafah kuno yang sederhana: jangan sekali-kali membuka toko kalau tidak bisa tersenyum. Atau, kalau mencari jarum carilah di toko Cina.
Kuatnya sistem kekerabatan membuat tingginya kemampuan mengatasi berbagai persaingan keras. Dan akhirnya membuat mereka tampak ekslusif. Keunggulan selalu melahirkan kecemburuan sosial. Padahal sebenarnya, hampir semua bangsa perantau akan selalu bersikap ekslusif di tanah barunya. Demi keamanan diri dan keuntungan seluas-luasnya. Lihat saja perantauan Arab, India, bangsa-bangsa kulit putih sangat jauh lebih egois. Perantauan Cina tak pernah lupa menerapkan nasihat Lao Tse, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Ahli sejarah Tiongkok, Nio Joe Lan, menerangkan hal ikhwal tentang sebutan Tionghoa di tanah pertiwi ini. Di zaman Hindia Belanda, abad XV, datanglah orang-orang Tiongkok ke beberapa wilayah Nusantara. Asalnya dari daerah tertentu (Hokkian?), sekadar untuk mencari nafkah dan penghidupan baru. Mereka ini dinamakan orang Tionghoa. Konon mereka memang dari suku Tionghoa. Mereka rata-rata miskin, hidup sangat sulit dan berat. Karena itu mereka tak pernah berniat pulang lagi ke negeri leluhurnya. Menyatu dengan masyarakat setempat dan menjalin pola hidup bersama. Hanya sampai generasi ketiga saja tak lagi menggunakan bahasa leluhurnya, karena memang sudah tidak bisa. Mereka menggunakan bahasa Melayu Pasar (Melayu Rendah) karena aktivitas pergaulan mereka di pasar sebagai pedagang, buruh, atau kuli. Mereka inilah yang lalu disebut sebagai Tionghoa Peranakan. Dalam khazanah sastra kita, ada genre sastra (terutama jenis cerita picisan) berupa cerita silat atau roman yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu Pasar (Melayu Rendah). Nah, kalangan Tionghoa Peranakan inilah yang menuliskannya. Sumber ceritanya terkadang dari Negeri Tiongkok yang mereka dengar dari penuturan para tetuanya.
Dalam selang waktu cukup panjang, berdatangan susul menyusul orang-orang Tiongkok berasal dari wilayah-wilayah lainnya. Oleh masyarakat setempat mereka juga disebut Tionghoa, padahal sebenarnya mereka di Tiongkok bukan bersuku Tionghoa. Barangkali karena ciri-ciri fisik yang sama, kulit kuning dan mata sipit, itulah yang membuat masyarakat setempat menyebut mereka juga Tionghoa. Kaum pendatang kedua ini kuat ekonominya, terpelajar, dan berbudaya tinggi. Mereka berbicara dengan bahasa Tiongkok hingga generasi berikutnya. Aktivitasnya murni dagang dan mencari peruntungan sebanyak mungkin. Dan selalu terobsesi pulang ke Tiongkok lagi dengan membawa kekayaan yang lebih besar. Bahkan kalau mati meminta mayatnya dibawa kembali ke Tiongkok untuk dikuburkan di sana. Nah, mereka inilah yang disebut sebagai Tionghoa Totok.
Kaum Tionghoa Totok inilah yang mengusahakan tumbuhnya sekolah-sekolah Tionghoa, dan membuat berbagai organisasi untuk memperjuangkan masyarakat Tionghoa secara keseluruhan. Hal ini dilakukan setelah menyadari sikap diskriminatif yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda. Makin pesatnya pendidikan Tionghoa membuat kaum peranakan menjadi lebih mudah dan makmur hidupnya. Tak lagi menghabiskan waktunya untuk mengurusi masalah perut belaka. Di saat inilah mulai berkembang lebih jelas kehidupan berkesenian, berkebudayaan, dan kebutuhan mengekspresikan diri melalui cara-cara berartistik. Termasuk di dalamnya adalah penulisan karya sastra, pemanggungan tonil, pertunjukan pawai Barongsai dan tentu saja melukis.
Masyarakat Tionghoa di zaman kekuasaan Hindia Belanda bagai memiliki dua kewarganegaraan. Dianggap sebagai rakyat pemerintah Hindia Belanda sekaligus rakyat dari pemerintah Tiongkok. Yang jelas mereka diposisikan berbeda dengan pribumi. Itulah sebabnya kalangan pejuang kemerdekaan Indonesia jengkel pada masyarakat Tionghoa. Karena mereka hanya berdiri sebagai penonton, menunggu arah angin bertiup, saat para pejuang kemerdekaan habis-habisan bertaruh nyawa. Tentu saja ada tidak sedikit masyarakat Tionghoa yang ikut bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka ini dari kalangan Tionghoa Peranakan, yang sudah menganggap bumi tempat mereka lahir sebagai tanah airnya sendiri.
Melacak perkembangan seni rupa masyarakat Tionghoa betapa sulitnya. Sebab betapa sedikitnya catatan yang pernah dibuat orang dan tidak mudah menemukannya. Dari ribuan tumpukan majalah semasa pergerakan kemerdekaan hingga zaman Orde Lama yang dikoleksi keluarga saya hampir tak terjumpai ulasan seni rupa yang cukup bisa digali. Di majalah seperti Soeloeh Pemoeda, Poedjangga Baroe, Tamansiswa, Wanitatama, Zaman Baroe, Sin Po, Star Weekly, Varia, Pandji Poestaka, Poestaka dan Boedaja, Basis, Zenith, Indonesia, Budaja, dan lain-lain tak ditemukan informasi berarti. Penerbitan buku mengenai hal ini juga tak ada. Yang banyak diberitakan dan diekspose adalah mengenai seni pertunjukan dan karya sastra Tionghoa Peranakan.
Kalau menyeksamai betapa suburnya penerbitan buku cerita dan maraknya seni pertunjukan seperti opera/tonil, wayang Potehi, Barongsai, dan lain sebagainya, semestinya seni rupanya subur pula. Sebab buku cerita dan majalah seperti Sin Po membutuhkan ilustrator yang cakap menggambar. Begitupun bidang seni pertunjukan membutuhkan orang yang cakap berseni rupa, terutama melukis, untuk mengerjakan make up, dekorasi, dan masalah tata artistik lainnya. Tentunya juga untuk membuat poster, iklan atau reklame. Tanpa orang-orang yang cakap di bidang seni rupa tidak mungkin hal-hal tersebut dapat dikerjakan dengan baik. Entah kenapa tak ada cukup catatan yang membuat para perupa masa itu bisa tampil ke permukaan.
Namun meski sedikit, ada juga yang dikemukakan majalah Sin Po - wekelijksche - editie, 26 Juli 1941. Oleh penulis berinisial S.T.K dikemukakan mengenai bakal diadakannya pameran lukisan (tentoonstelling schilderijen) tanggal 8 Agustus 1941 di Kunstzaal Firma G. Kolff & Co., Rijswijk, Batavia - C oleh beberapa pelukis Tionghoa. Diceritakan sedikit mengenai asal usul para pelukis dan keistimewaannya. Mereka kelahiran awal tahun 1900-an yaitu Tan Liep Poen, Lee Man Fong, Chia Choon Khui, Jauw Soei Kiong, Tan Soen Kiong, Kho Wan Gie dan Siauw Tik Kwie. Yang menarik, Siauw Tik Kwie memberikan gambaran betapa hidup para pelukis kala itu dijerat kemiskinan sehingga rata-rata berwajah pucat dan berbadan kurus. Meski begitu, ia mengajak siapa saja yang punya panggilan jiwa sebagai pelukis untuk tabah dan terus melukis dengan menyiasati keadaan. Jangan tunduk dan menyerah oleh kemiskinan. Katanya, kesukaan yang sejati tak akan bisa diubah dan tidak bisa dipengaruhi oleh kekayaan dunia.
Sesudah Indonesia merdeka secara otomatis orang Tionghoa yang memilih tetap tinggal di Indonesia menjadi penduduk negeri ini. Pentingnya posisi pelukis Tionghoa dapat dilihat dari kepercayaan Bung Karno kepada Lim Wasim dan Lee Man Fong untuk menyusun buku Lukisan-lukisan dan Patung-patung Koleksi Presiden Soekarno, terbit tahun 1960-an. Buku tiga edisi ini hingga sekarang tetap menjadi buku seni rupa paling hebat, yang mengemukakan koleksi seorang presiden di dunia. Tak ada presiden mana pun di dunia yang memiliki kecintaan, visi, dan misi di bidang seni rupa yang bisa menandingi kehebatan presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Buku edisi pertama terdiri dari empat jilid, hanya memuat koleksi lukisan saja. Dicetak di Peking dengan sistem tempel. Pilihan koleksi untuk jilid satu dan dua dilakukan oleh Dullah yang merupakan pelukis istana. Pilihan koleksi untuk jilid tiga dan empat dilakukan oleh pelukis Lim Wasim. Edisi kedua juga dengan sistem tempel dicetak di Tokyo terdiri dari lima jilid, yang kesemua karya diseleksi dan disusun oleh Lee Man Fong. Tambahan jilid lima khusus memuat karya patung dan porselin. Edisi ketiga isinya sama persis dengan edisi kedua, bedanya hanya menggunakan sistem cetak langsung (gambarnya tidak di tempel) sehingga wujud bukunya menjadi lebih tipis. Sebenarnya sudah siap angkat cetak, draf nya sudah dibuat, jilid keenam sampai sepuluh. Konon malah sudah jadi beberapa eksemplar sebagai sample. Sayang keberadaannya tidak terlacak. Kejatuhan Bung Karno oleh penguasa Orde Baru membuat rencana penerbitan jilid enam sampai sepuluh ini gagal total. Sungguh, hal ini merupakan kerugian luar biasa hebat bagi sejarah seni rupa Indonesia masa depan.
Peristiwa G30S/PKI dan bangkitnya era Orde Baru tahun 1965 di bawah Presiden Soeharto membuat para perupa Tionghoa kian tidak jelas keberadaannya. Mereka tiarap dan tak berani unjuk diri. Apalagi yang melukis dengan gaya klasik atau tradisi sebagaimana yang ada di negeri Cina, benar-benar tidak bisa tampil ke permukaan karena larangan pemerintah. Seperti diketahui, penguasa Orde Baru membuat kebijaksanaan politik yang sangat membatasi gerakan masyarakat etnis Cina (Tionghoa). Termasuk di dalamnya pelarangan ditampilkannya kesenian yang berbau tanah leluhur Tiongkok.
Rezim Orde Baru dihantui trauma berkaitan dengan gerakan orang-orang Tionghoa yang tergabung dalam organisasi BAPERKI terbukti menjadi agen dari pemerintah RRC yang membantu PKI hingga menyebabkan tercetusnya pemberontakan G30S/PKI. Pelampiasannya ditimpakan pada masyarakat Tionghoa secara keseluruhan. Yakni dengan mengeluarkan berbagai keputusan pemerintah yang meminggirkan hak-hak etnis Tionghoa sebagai bagian dari rakyat negara Indonesia. Penerapan asimilasi mengharuskan penggantian nama Cina dengan nama Indonesia, anjuran kawin campur, dimaksudkan untuk mengikis sikap ekslusif. Juga agar mereka lebur menjadi benar-benar Indonesia, menghapus ingatan dan hubungan spiritualnya dengan negeri leluhur. Mana bisa? Sungguh absurd! Ajaran Tao sebagai jalan hidup tak mungkin bisa ditanggalkan. Keyakinan akan Tao itulah yang membuat semua orang Cina tetap menjadi Cina di belahan bumi mana pun mereka berada dan meski telah menjadi warga negara mana pun juga.
Rupanya tekanan rezim Orde Baru dan trauma peristiwa G30S/ PKI, membuat etnis Cina di Indonesia merasa lebih nyaman disebut Tionghoa. Sebutan Cina menimbulkan konotasi yang tidak membahagiakan. Untunglah, sesudah reformasi presiden Abdurrachman Wahid mengembalikan hak-hak istimewa masyarakat Tionghoa sebagai warga negara Indonesia. Termasuk di dalamnya mengekspresikan seni budaya yang dulu dibawa dari daratan Cina dan hak berpolitik. Kini etnis Cina di Indonesia tak lagi perlu punya alasan untuk gatal telinga dengan sebutan Cina. Tapi rupanya bagi kebanyakan orang sebutan Tionghoa tetap terasa lebih indah.

Nah, kembali ke perbincangan seni rupa. Semasa kencangnya kekuasaan Orde Baru, para pelukis berdarah Tionghoa sebenarnya berkembang lebih baik. Hanya saja mereka menggunakan teknik modern dari Barat, dengan muatan ide yang universal, dan cuatan ekspresi individualistik. Posisi mereka rata-rata kuat karena ditunjang kemampuan ekonomi yang baik sehingga tak kesulitan berproduksi. Ditambah adanya infrastruktur yang mulai terbentuk cenderung menguntungkan mereka. Tanpa bermaksud mengumbar rasialisme, pelukis Fadjar Sidik di tahun 1990-an pernah berkeluh kesah. Katanya, “Yah, gimana lagi. Para pemilik galeri, pedagang, art dealer, kolektor, pengamat dan kritikus, pemilik media masa kebanyakan orang Tionghoa. Ya, tentu saja yang diangkat-angkat setinggi langit ya para perupa berdarah Tionghoa.”
Di era Orde Lama hingga awal Orde Baru bisa dikemukakan perupa Tionghoa yang menonjol antara lain Lee Man Fong, Lim Wasim, Siauw Tik Kwie, Ling Nan Lung, Yap Kin Kun, dan Huang Fong. Sedang di masa pertengahan Orde Baru hingga sesudah reformasi bisa dideret nama Jim Supangkat, FX Harsono, AS Budiono, Kok Poo hingga ke generasi Agus Suwage dan Ay Tjoe Christine. Kalau mau disebut lagi nama pelukis yang orang tuanya nikah campur, misalnya ayah Tionghoa dengan ibu Jawa/Sunda dan sebaliknya, bisa disebut Affandi, Dadang Christanto, dan Wara Anindyah yang bernenek keturunan Tionghoa. Tentu masih banyak lagi yang sebenarnya bisa dikemukakan, sayangnya datanya sangat sulit dicari.
Para perupa tersebut di atas dari segi kreativitas memiliki pengaruh yang signifikan bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Karyanya variatif, dengan ide-ide dan pemikiran yang merangsang lahirnya penjelajahan-penjelajahan baru bagi para seniman lainnya. Jim Supangkat sebagai corong Gerakan Seni Rupa Baru tahun 1975, juga FX Harsono dan Agus Dermawan T., sangat lantang gema vokalnya hingga sekarang. Menginspirasi generasi berikutnya tak henti-henti. Dadang Christanto melalui karya Seribu Satu Manusia Tanah sangat menghentak. Perannya mendorong maraknya seni instalasi di negeri ini harus diapresiasi. Bersamaan tumbangnya Orde Baru muncul lagi Sidik W. Martowidjojo yang lama terbenam, menggebrak dengan basic lukisan Cina klasik. Yang fenomenal Wara Anindyah dengan menampilkan figur-figur masyarakat Tionghoa dari masa lalu. Pameran tunggal Wara Anindyah di Jakarta, Surakarta, dan Yogyakarta mendapat sambutan media massa amat sangat luas dan mendalam. Dikemukakannya gambaran masyarakat Tionghoa dengan sentuhan suasana dan cita rasa artistik berbeda dan belum pernah dikerjakan oleh seniman lain sebelumnya.
Pengamat seni rupa Agus Dermawan T. lebih sepuluh tahun lalu pernah menulis bahwa yang bermain di pasar seni rupa, dalam hal ini adalah pembutuh karya, 90% adalah orang Tionghoa. Mereka adalah kolektor dan kolekdol, art dealer dan pemilik galeri. Dari hitungan 90% itu yang 90% adalah bukan kolektor murni. Alias pedagang murni dan para pembeli yang kalau bosan dijual lagi untuk cari untung juga. Itulah sebabnya pasar seni rupa Indonesia bisa riuh rendah. Penuh kejutan, trik, intrik, dan konflik. Sebab dunia perdagangan memang selalu riuh rendah. Apalagi, suka atau tak suka, para pedaganglah penguasa yang menentukan arah kompas.
Dari kalangan galeri bisa dideret nama terkemuka seperti Hendra Hadiprana (Galeri Hadiprana), Edwin Rahardjo (Edwin’s Gallery), Andi Yustana (Andi’s Gallery), dan lainnya. Dari kalangan kolektor berpengaruh tercantum nama Ir. Ciputra, Dr. Oei Hong Djien, Ir. Deddy Kusuma, Budi Tek, Budhi Setya Dharma, Siswanto HS, Soenarjo Sampoerna, Dr. Melani W. Setiawan, dan berderet-deret lainnya.
Sudah tentu tak perlu diherankan, kalau kenyataan dunia seni rupa yang tumbuh di Indonesia akan selalu menguntungkan para perupa Tionghoa. Tapi di luar kepentingan ekonomi, seni itu maha misterius, terlalu liar untuk bisa dikendalikan oleh kekuatan politik. Penggila seni yang fanatik akan selalu memburu karya-karya terbaik dari mana pun asalnya dan siapapun pembuatnya. Perupa Tionghoa yang tak mengejar mutu pasti akan tenggelam dengan sendirinya. Hasil-hasil karya yang bermutu tinggi pasti akan menjulang dan bertahan meski dibuat oleh orang Jawa, Bali, Sunda, Batak, Minang, Dayak yang buta huruf sekalipun. Hukum keabadian seni sangat berbeda dengan hukum politik dan dagang. Seni adalah revolusi abadi. Adalah waktu yang dihentikan dalam keabadian.

Seruni Bodjawati
Yogyakarta, 7 Oktober 2013

*Esai dimuat di MataJendela – Taman Budaya Yogyakarta, Volume VIII Nomor 4/ 2013

Media Massa dan Kritik Seni Rupa

Esai Seruni Bodjawati di Koran Jawa Pos
Media massa seperti koran dan majalah telah memberikan ruang luas untuk peliputan berbagai peristiwa seni rupa di Indonesia. Hal ini membuat perkembangan seni rupa kita melesat sangat pesat dalam satu dasawarsa terakhir. Indonesia menjadi salah satu pusat seni rupa Asia berdampingan dengan Cina, India dan Vietnam. Diakui atau tidak, ibu kota seni rupa Indonesia adalah Yogyakarta. Di kota berhati nyaman ini ribuan perupa lahir dan bersaing keras untuk eksis. Daya kreativitas menggelegak. Inovasi dan terobosan baru dalam penciptaan dan publikasi karya berjalan jauh lebih intens dan memukau.
Apa pun bentuknya, setiap tulisan di media massa pastilah memberi rangsangan ke semua pihak untuk lebih memerhatikan seni rupa. Para seniman lebih tergugah, galeri dan pedagang tambah nafsu, kolektor dan konsumen mimpinya lebih indah, dan masyarakat luas lebih ingin memahami seluk beluknya. Namun jarang ada pihak yang mengerti secara bijak mengenai karakteristik dan posisi jurnalistik seni rupa di media massa. Termasuk para perupa sendiri. Seringkali terlontar berbagai keluhan mengenai bobot dan cakupan tulisan serta detail dan kedalaman kritiknya. Tentunya hal ini terjadi akibat tiadanya pemahaman memadai tentang berbagai persoalan yang ada.
Jurnalistik seni rupa di media massa punya bentuk beragam. Ada yang berupa laporan sekilas pandang, mirip berita biasa, acapkali ditulis oleh wartawan bukan ahli seni rupa dan karenanya lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat informatif atas data-data faktual belaka. Mungkin juga akan ditambah sedikit komentar sederhana untuk mempermanis tulisan agar enak dibaca. Tentu saja tulisan semacam ini tidaklah mendalam. Sebab memang tidak dimaksudkan sebagai sebuah tinjauan seni. Ada pula jenis tulisan panjang, cukup komplit dan mendalam yang biasa dimuat di rubrik khusus budaya. Seringkali dibuat oleh penulis lepas yang sengaja mengirimkannya ke redaksi. Kebanyakan orang lantas menganggapnya sebagai tinjauan seni bahkan kritik seni.
Seyogyanyalah, yang paling berkompeten melakukan kritik seni adalah ahli seni. Tapi tidak setiap ahli seni dapat menjadi kritikus seni. Ada berbagai prasyarat yang harus dimiliki untuk menjadi kritikus seni, apalagi kritikus seni di media massa. Salah satu yang mutlak adalah kemampuan menulis yang baik dan benar, enak menyajikannya, sesuai tuntutan media massa dalam melayani kebutuhan pembaca yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat.
Ahli seni yang pintar menulis tidaklah banyak. Yang ada itupun belum tentu mau (bisa) produktif. Padahal kebutuhan media massa akan tulisan berupa kritik seni amatlah banyak. Akibatnya ruang kosong yang ada sering dimasuki oleh siapa saja. Penulis ahli yang bukan ahli seni adalah yang paling berpeluang mengisi kekosongan tersebut. Kadangkala dengan modal pengetahuan seni tidak seberapa justru bisa bebas berbicara panjang lebar mengenai seni. Celakanya, cara bertuturnya amat sangat enak dibaca, gurih dan renyah serta penuh gairah dan menggugah emosi, meski kelemahannya sungguh mendasar yakni tidak menyentuh esensi. Padahal yang paling dibutuhkan dalam kritik seni adalah pembicaraan mengenai esensinya.
Tidak mudah dan bahkan cukup berat menulis kritik seni rupa di media massa. Disamping dihadang keterbatasan ruang dan deadline, masih dibebani keharusan untuk mencerdaskan dan mencerahkan pembaca. Sementara pengejaran terhadap aktualitas membuat waktu merenung tak bisa berpanjang-panjang. Perlu kecerdikan tertentu dalam bekerja agar kelemahan mendasar yang tak mungkin dihindari bisa teredam. Belum lagi risiko moralitasnya, semakin banyak mengkritik berarti semakin banyak menambah musuh. Secantik apa pun tampilan sebuah kritik tetap tak akan gampang diterima dengan lapang dada oleh pihak sang seniman. Konon seniman adalah makhluk paling manja di dunia. Cepat cemberut kala dikritik dan segera meledak bahagia kala dipuja. Bergurau pula, bahwa kritikus itu hanyalah orang lumpuh yang gemar menghardik orang agar berlari kencang. Tak aneh jika kemudian lebih banyak kritikus seni pensiun dini hari.
Kritik jurnalistik seni rupa yang termuat dalam jurnal berkala atau majalah khusus seni rupa lebih mungkin memberikan kepuasan dari segi kedalaman tinjauannya. Sebab disamping halaman yang tersedia lebih luas juga segi aktualitas peristiwanya tak terlalu dipusingkan. Di sini kritikus bisa lebih mengendapkan hasil perenungan dan pemikirannya sebelum menuangkan ke dalam tulisan. Aturan penuturan yang dikehendaki teoritikus Joseph Darracott bisa diterapkan yaitu deskripsi, interpretasi dan evaluasi. Dengan ini kritikus menempuh ujiannya sendiri berkaitan dengan penguasaan terhadap seluk beluk elemen-elemen estetika, teori-teori seni rupa dan tuturan bahasa. Mampukah mengajak pembaca turut memasuki kesadaran kritis terhadap karya kreatif seniman?
Kritik seni hanyalah bagian gejala dari persoalan besar dunia seni rupa. Kritik hanya bersifat membantu (memandu) pemahaman dan tanggapan masyarakat terhadap karya seni rupa. Tak boleh dianggap mutlak kebenarannya. Sangat boleh tidak dipercaya, disangsikan, digugat dan dipertanyakan kembali. Kritik yang baik selalu membuka pintu untuk mendapat serangan balik. Dengan begitu dialog panjang akan terjadi untuk menemukan kemungkinan terbaik. Pada akhirnya memang mutu muatan tulisan sangat bergantung pada kapasitas dan kualitas pengetahuan (pengalaman) dari sang kritikus sendiri. Jadi, kritikus hanya akan matang kalau juga mendapat banyak kritik.

*Seruni Bodjawati, pelukis dan esais.

FRIDA KAHLO: LOVE & TRAGEDY (English Essay)




Ewho Gallery, Seoul, South Korea Presents Global Art Project (Indonesia & Korea)
“FRIDA KAHLO: LOVE & TRAGEDY”
Seruni Bodjawati and Higi Jung
Essay by Seruni Bodjawati

Man is a mystery. Although his physical action can be read, but the motion of his soul is unpredictable where it leads. Inside a human's mind, there are endless possibilities. If a human is being compared to universe, he is like a small cosmos and the universe is like a big cosmos. Remarkably, the big cosmos can be stored in a small cosmos. The human mind itself can be smaller than a grain of sand and when it is deployed, it can be wider than the universe. Yes, man is a great mystery, for himself or for others.
Higi Jung tried to interpret the figure of Frida Kahlo with the sharpness point of view that is left loose. Excerpts meaning embodied in the works of photography. Her artistic presentation technique is unique. She presents a psychological analysis as an expression of short poems. It is fresh with surprises that are igniting enlightenment. The shortness of expression precisely impresses the longevity of distraction power in creativity that is difficult to be measured. Frida’s existence as a source of inspiration is described as eternal riddle. Man is a big question mark. His imperfection becomes the falsification of his wholeness. The secret of the noise is located on the edge of silence. The maturity is within the simplicity reflexion. Photographic works of Higi Jung become an unexpected appeal precisely because its expression is very close to everyday reality. Similar wonders to the heartbeat. It is fused in the body until it has palpable presence.
Higi Jung was born in Uncheon, Kunggi-do, on December 5, 1986. She ever stayed in Moscow, Russia, in 1991-1993. Until now she is living in Seoul, South Korea. In 2009 she graduated from Chung-Ang University in creative writing and photography. Getting to know Frida Kahlo at the age of 17 through the film titled Frida. Her curiosity with the Mexican legend was made her continuously hunting information via internet and books. Finally, the figure of Frida is used as a source of ideas for work, especially in photography.
Frida Kahlo is known in the art world because of her life history was full of colour and wave. She was born on July 6, 1907 and died on July 13, 1954. Living amid the roar of the Mexican revolution made her experienced tragic events. A great traffic accident made her suffering pains for life. Her marriage with a muralist, Diego Rivera, was widening inner wounds as well as boosting her creativity. Her affair with a communist leader, Trotsky, became a glamorous myth. Her attitude was reckless, with the lion guts, banging on the walls of the establishment. In short, her life story is as important to talk about as the awesomeness of her artworks. Recorded Frida made ​​143 paintings, 55 of which are self-portraits which often incorporate symbolic depiction of the physical and psychological wounds. She insisted, "I never paint dreams or nightmares. I paint my own reality.”



Equally fascinated by Frida Kahlo, I agreed to collaborate with Higi Jung in the project Frida Kahlo: Love & Tragedy, supported by Ewho Gallery, Seoul, South Korea. Since high school, starting when I was 15 years old, I have created dozens of paintings with the main object of Frida Kahlo figure. Working together with Higi Jung would certainly be an important record for both our artistic journeys.
There are seven pieces of my paintings I created in this art project. Five pieces sized 200 x 145 cm; A Couple of Rebels, Glimpses of Morning Star, Children of Heaven, The Legend Vanished in Memories and The Silent World of Frida. Two others are Conquering the World sized 200 x 300 cm and Opera Pablo Pickahlo sized 250 x 200 cm. The media of all my artworks are acrylic on canvases. My inclination is to tell by the winged language. I see the figure of Frida Kahlo in my artworks as an existence plagued with gloom fate. Full of problems, rebelling to grey fate, continuously searching for herself holding a twist of death on her back. As human with multidimensional characters, the figure is hammered with a big question mark that will never go over answered. I also idealize it by intentionally increasing the volume of humanity. In order for the dramatic aspects that were created can be sticking sharper. Decorative technique is quite dominating the whole field of the canvases. Surrealistic atmosphere is spreading in the stern expression. The power of colours is slightly muted to strengthen the suggestive power and fantasy games.
By featuring the clarity of mind, Higi Jung created ​​eight photographic works. Two of them are self-portraits. Four of them were shot with a model of South Korean actress, Jaehwa Kim, her own cousin. And two works were shot with a model of a Javanese woman, Darajati Pertiwi. She shot the six works in South Korea. Two works titled Women F # 5 Pink Tears and Women F#6 Connivance were created in Indonesia when she was visiting Yogyakarta. In the series of Women F, summarized eight works titled Spring Fever, Do not be Afraid, Summer House, Ponds in the Forest, On the Carpet with Tiny Ducks, Pink Tears, Connivance, and Gaze. Thick eyebrows that characterize Frida Kahlo character are imposed on the face of the model to build a new character. It is an affirmation of the view that women are strong, independent and having unbeatable freedom. This is a maturation of culture that tends to push the perception that women should be gentle and pure.
At last, my collaboration with Higi Jung will be a silent dialogue that will never end. From two different and far places we look toward a same point. Although the direction of our view is the same but our minds are wandering into the wilderness that much different. Indeed, a friendship becomes beautiful when each person is left to be himself to the fullest.

Yogyakarta, 23 October 2012